MAFAHIM ISLAM

MEMAHAMI ISLAM DENGAN MUDAH

Oleh : Azhari


Dalam hadis yang panjang riwayat Bukhari dan Muslim dikisahkan saat perang Tabuk Ka’ab bin Malik tidak ikut berperang, padahal saat itu Ka’ab tidak memiliki uzur (halangan). Ka’ab sebetulnya ingin berangkat perang, hanya saja dia menunda-nunda sehingga tertinggal dari rombongan.

 

Perang Tabuk terjadi pada 9H, dimana Rasulullah saw berangkat melawan pasukan Rumawi. Perjalanan menuju Tabuk cukup jauh, udara sangat panas dan melewati gurun pasir. Sementara buah-buahan dan kurma sedang ranum di Madinah, sehingga orang-orang munafik tidak ikut berangkat perang dan lebih senang bernaung dibawah pohon kurma. Rasulullah saw dan pasukannya tinggal di Tabuk selama 20 hari, karena tidak ada pergerakan musuh maka Beliau dan pasukannya pulang ke Madinah.

 

Selain Ka’ab ada 2 sahabat lain tidak ikut berperang tanpa uzur yakni Murarah bin Rabi’ah dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi.

 

Saat tiba di Madinah Rasulullah saw bertanya kepada Ka’ab, ‘Apa yang menyebabkanmu tidak ikut perang ini, bukankah kamu telah menyiapkan kendaraan?'

 

Jawab Ka’ab, ‘Ya Rasulullah, demi Allah, seandainya aku duduk dihadapan penduduk dunia selain engkau pasti aku akan mencari-cari alasan agar selamat dari kemurkaannya karena aku adalah seorang yang pandai berdebat. Tetapi demi Allah, sekiranya aku berdusta pada hari ini agar engkau ridha niscaya Allah akan membuatmu murka kepadaku. Sebaliknya, jika aku jujur niscaya engkau akan marah kepadaku, tetapi aku tetap berharap agar Allah memberiku kesudahan yang baik. Demi Allah, aku tidak mempunyai uzur. Demi Allah, tidak pernah sebelumnya aku lebih kuat dan lebih mampu daripada ketika aku tidak ikut perang bersama engkau’

 

Rasulullah saw bersabda, ‘Adapun yang ini telah berkata jujur, pergilah sampai AIlah memutuskan tentang dirimu’

 

Rasulullah saw kemudian melarang para sahabat berbicara kepada 3 orang sahabat tersebut. Bagaimanapun Ka’ab tetap shalat jamah di masjid bersama Rasulullah saw, hanya saja tidak ada sahabat yang mau bicara dengan Ka’ab.

 

Pada hari ke 40 datang utusan Rasulullah saw memberitahu agar 3 orang sahabat tidak mendekati istrinya, Ka’ab kemudian menyuruh istrinya pulang kerumah keluarganya. Ka’ab merenung betapa sempit hidupnya didunia akibat hukuman ini.

 

Ujian berikutnya datang ketika utusan Raja Ghassan yang kafir, membujuk Ka’ab datang kenegerinya karena Ka’ab dihina, direndahkan dan tidak diterima oleh para sahabatnya. Tapi Ka’ab menolak dengan tegas dengan membakar surat Raja Ghassan.

 

Pada hari ke 50 datang berita gembira bahwa Allah telah menerima taubat 3 orang sahabat. Ka’ab menemui Rasulullah saw dan bertanya, ‘Apakah dari Engkau atau Allah ya Rasulullah ?’

Kata Rasulullah saw, ‘Bahkan dari Allah’

Kemudian Ka’ab bersumpah bahwa selama hidupnya tidak akan berbicara kecuali dengan jujur.

 

Allah menerima taubat 3 orang sahabat dengan menurunkan wahyu At-Taubah 117-119.

 

Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka (At-Taubah 117).

 

Dari kisah diatas dapat diambil pelajaran bahwa setiap muslim agar bersegera melakukan amal saleh, jangan menunda-nunda sehingga menimbulkan rasa malas. Keteguhan Ka’ab untuk bersikap jujur dan menerima dengan sabar dan ikhlas hukuman dari Rasulullah saw. Kata’atan para sahabat dalam menjalankan perintah Rasulullah saw untuk tidak bicara dengan Ka’ab, meskipun Ka’ab sahabat mereka yang cintai.

 

Kitab : Lautan Hikmah dari kisah-kisah nyata dan berharga [Al-Qaulut Tsamin min Qashashi Ibni Utsaimin]

Karangan : Shalahuddin Mahmud as-Sa’id


Oleh : Azhari


Rasulullah saw diutus pada saat orang-orang Arab tidak mengerti sedikitpun tentang Allah, tentang alam semesta, tentang kehidupan, tentang keimanan dan tentang hari akhir.

 

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Al-Jumu’ah 2).

 

Sebelum Islam, orang-orang Arab selalu berkhianat, menipu, menyembah berhala dan mengelilingi patung. Dapat dibayangkan bagaimana orang Arab sebelum Muhammad diutus sebagai Rasul. Bagaimana akalnya, cara berpikirnya, bagaimana nalurinya dan cara pandangnya terhadap sesuatu. Dia memegang kurma ditangannya dan menyembahnya, ketika lapar dia memakannya.

 

Namun begitu, dalam jiwa mereka terdapat sifat-sifat kearaban yang positif. Mereka beriman kepada Rabb, meyakini sebagai Zat yang menciptakan dan memberikan rizki. Hanya saja mereka juga meyakini ada ilah (tuhan) Iain selain Allah. Kepada ilah-ilah yang berupa berhala dan patung itulah mereka mengarahkan ibadah-ibadah mereka.

 

Kemudian datanglah Rasulullah saw menyampaikan bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, yang menciptakan semua makhluk adalah Allah, yang memberi rezki adalah Allah dan tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesembahan lain. Sebetulnya para Rasul mendakwah hal yang sama yakni tauhid, tiada ilah selain Allah. Dalam prakteknya syariat para Rasul berbeda-beda, tapi tetap satu keyakinan bahwa beribadah hanya kepada Allah.

 

Rasulullah saw juga menyampaikan bahwa dirinya adalah manusia biasa seperti halnya kita, hanya saja ia bertugas menyampaikan dakwah. la tidak memiliki kewenangan untuk memberikan madharat dan manfaat, memberikan kematian dan kehidupan, menyembuhkan dan menyehatkan.

 

Muhammad adalah manusia biasa, ia lapar seperti halnya orang lain lapar, kenyang sebagaimana orang lain kenyang, marah seperti halnya orang lain marah dan juga mengalami kesulitan hidup dan tekanan sebagaimana yang dirasakah oleh orang lain dalam hidupnya. Seandainya ia seorang malaikat niscaya ia tidak akan bisa beradaptasi dengan kehidupan manusia yang penuh kesulitan dan tekanan ini.

 

Kami tidak mengutus seorang rasul-pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (Ibrahim 4).

 

Inilah Akidahku (Hazihi Aqidati)

'Aidh bin Abdullah al-Qarni


Oleh : Azhari


Rasulullah saw tidak pernah menetapkan siapa khalifah yang memimpin kaum muslimin sepeninggal beliau. Saat jenazah Rasulullah saw masih terbaring terjadi perselisihan siapa yang akan diangkat sebagai khalifah pemimpin kaum muslimin. Kaum anshar berkumpul di Saqifah Bani Saidah dan memilih Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah, kaum muhajirin memilih Abu Bakar atau Umar sebagai khalifah.

 

Abu Bakar dan Umar mendatangi Saqifah Bani Saidah, Abu Bakar berbicara dengan tenang dan memegang tangan Umar dan Ubadah bin Al-Jarrah. Abu Bakar meminta kaum muslimin memilih diantara keduanya yang akan dibai’at sebagai khalifah. Kemudian terjadi kegaduhan diantara kaum muslimin, lantas Umar berkata, ‘Hai Abu Bakar, bentangkan tanganmu’ Kemudian kaum muslimin muhajirin dan anshar membai’at Abu Bakar sebagai khalifah pertama kaum muslimin.

 

Besoknya Abu Bakar berbicara setelah terpilih sebagai khalifah, ‘Hai manusia, sungguh aku dipilih untuk memimpin kalian, padahal aku bukan orang terbaik diantara kalian. Jika aku berbuat baik maka bantulah aku. Jika berbuat salah maka luruskan aku.. Taatlah kalian kepadaku selagi aku taat kepada Allah dan rasul-Nya. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya maka kalian tidak berhak taat kepadaku’

 

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam


AZHARI

AZHARI

Renungan

KEBERANIANKU TIDAK AKAN MEMPERPENDEK UMURKU

KETAKUTANKU TIDAK AKAN MEMPERPANJANG UMURKU

AKU AKAN TERUS BERJUANG SEMAMPUKU

UNTUK KEBENARAN DAN KEADILAN

HINGGA ALLAH MEMANGGILKU PULANG

ALLAHU AKBAR !



free counters

Pernyataan

Silahkan mengutip artikel di blog ini karena hak cipta hanya milik Allah swt.