MAFAHIM ISLAM

MEMAHAMI ISLAM DENGAN MUDAH

Oleh : Azhari

Beberapa hari viral seseorang yang mengutak-atik angka (tambah kurang kali bagi),  sehingga muncul angka yang diyakini sebagai angka keberuntungan. Bagaimanakah hukum Islam meyakini hal seperti ini?

 

Meyakini sesuatu seperti angka, hari, bulan atau benda yang membuat sial dikenal dengan Tathayur (Thiyarah). Salah satu tathayur yang dilakukan oleh kafir Quarisy zaman dahulu adalah sebelum melakukan perjalanan mereka melihat arah burung terbang. Jika burung terbang ke kanan maka pertanda baik maka perjalanan dilanjutkan, tapi jika burung terbang ke kiri maka pertanda buruk maka perjalanan dibatalkan.

 

Kembali ke topik tentang seseorang yang meyakini angka tertentu membawa keberuntungan. Misal setelah mengutak-atik maka muncullah angka 8 yang dianggap sebagai angka keberuntungan yang membawa kemakmuran.

 

Sedangkan yang dianggap membawa kesialan angka 13, atau bagi orang Cina angka 4 membawa kesialan karena lafaznya SI berarti kematian. Percaya atau tidak banyak gedung tinggi dimana lift-nya yang tidak mencantumkan angka 4, kadang diganti dengan 3A dan 3B.

 

Meyakini angka-angka membawa keberuntungan atau kesialan (tathayur) adalah perbuatan syirik, karena menggantungkan hati kepada selain Allah swt. Mereka menyandarkan baik dan buruk, untung dan sial, selamat dan bencana kepada selain Allah. Padahal tathayur tidak akan memberikan mudharat sama sekali, baik dan buruk semata-mata atas keputusan Allah.

 

Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan. Dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakkal (dalam hati) (HR. Abu Daud).

 

Tidak ada ilah selain Allah hanya Allah yang berhak disembah, tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesembahan lain. Allah memiliki kewenangan untuk memberikan madharat atau manfaat, kehidupan atau kematian, menyembuhkan dan menyehatkan.

 

Haram hukumnya meminta pertolongan yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, meminta kesembuhan, kesehatan, rezki, mematikan, menghidupkan, memudahkan segala permasalahan dan mengangkat kesusahan hidup.

 

Referensi: Inilah Akidahku, DR. ‘Aidh Abdullah Al-Qarni


Oleh : Azhari

 

Dari Usamah bin Zaid bahwa berkata, ‘Rasulullah mengutus kami ke hurakah Bani Juhainah, maka kami berhadapan dengan mereka didekat mata air mereka diwaktu subuh. Sedangkan aku bersama seorang Anshar bertemu dengan salah seorang dari mereka. Takala kami telah berhasil mengepungnya, dia berteriak, “Laa ilahaillallaah” Sahabat Anshar itupun tidak jadi menyerang, adapun aku tetap menusuknya dengan tombak sampai dia terbunuh. Ketika kami sampai di Madinah, kejadian itu sampai kepada Rasulu!lah’ Maka beliau berkata padaku,

‘Ya Usamah, kamu bunuh dia seteah dia mengucapkan Laa ilahaillallaah’

Maka aku katakan kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, dia hanya mencari perlindungan’

Maka Rasulullah kembali berkata, ‘Kamu bunuh dia setelah dia mengucapkan Laa ilahaillallaah?’

Rasulullah terus mengulang-ulang kalimat itu, sampai aku mengangankan andai aku baru maşuk Islam di waktu itu’ (Muttafaqu’alaih).

 

Hal ini merupakan dalil bahwa menghukumi manusia hanya pada zahirnya, adapun yang ada didalam hatinya urusan dia dengan Allah nanti diakhirat. Rasulullah saw menghukumi perkara berdasarkan apa yang tampak.

 

Sehingga bermuamalah dengan orang Iain sesuai dengan yang zahir (tampak), sedangkan yang ada dihatinya urusannya dengan Allah. Kita juga harus membersihkan jiwa dari sifat hasad, syirik dan ragu-ragu.

 

Kitab : Lautan Hikmah dari kisah-kisah nyata dan berharga [Al-Qaulut Tsamin min Qashashi Ibni Utsaimin]

Karangan : Shalahuddin Mahmud as-Sa’id

 

Wallahua’lam, Azhari

Oleh : Azhari

 

Dari Al Barra' bin 'Azib berkata, ‘Ada seorang yang membaca Surat al-Kahfi sementara disisinya ada seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali. Tiba-tiba ada awan yang menaunginya, awan itu mendekat sehingga kuda tersebut lari meninggalkannya. Tatkala datang waktu subuh, orang itu bercerita kepada Rasulullah mengenai kejadian tersebut’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Itu adalah sakinah yang turun karena al-Quran’ (Muttafaqun’alaihi).

 

Jika seseorang yang membaca al-Qur'an dengan pelan dan ditadabburi maknanya, maka Allah akan menurunkan sakinah kedalam hatinya.

 

Kisah ini merupakan salah satu karamah para wali, tetapi tidak setiap wali mempunyai karamah. Allah menampakkan karamah pada sebagian wali-Nya sebagai pemuliaan, pengokohan hati dan pembenaran bagi al-haq yang ada padanya. Jika melihat seorang yang beriman, bertaqwa, dikenal keshalihan dan keistiqamahannya melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan maka itu karamah dari Allah.

 

Sedangkan para Nabi diberikan mukjizat oleh Allah, setelah wafatnya Rasulullah saw maka mukjizat terputus karena Rasulullah saw penutup para nabi.

 

Dilain hal, jika seorang dukun melakukan sesuatu diluar kebiasaan maka itu tipuan setan dan sihir, terjadi karena bantuan setan yang menipu mata manusia.

 

Kitab : Lautan Hikmah dari kisah-kisah nyata dan berharga [Al-Qaulut Tsamin min Qashashi Ibni Utsaimin]

Karangan : Shalahuddin Mahmud as-Sa’id

AZHARI

AZHARI

Renungan

KEBERANIANKU TIDAK AKAN MEMPERPENDEK UMURKU

KETAKUTANKU TIDAK AKAN MEMPERPANJANG UMURKU

AKU AKAN TERUS BERJUANG SEMAMPUKU

UNTUK KEBENARAN DAN KEADILAN

HINGGA ALLAH MEMANGGILKU PULANG

ALLAHU AKBAR !



free counters

Pernyataan

Silahkan mengutip artikel di blog ini karena hak cipta hanya milik Allah swt.