Oleh : Azhari
Rasulullah saw diutus pada saat orang-orang Arab tidak mengerti
sedikitpun tentang Allah, tentang alam semesta, tentang kehidupan, tentang
keimanan dan tentang hari akhir.
Dia-lah yang
mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan
mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam
kesesatan yang nyata (Al-Jumu’ah 2).
Sebelum Islam, orang-orang Arab selalu berkhianat, menipu, menyembah
berhala dan mengelilingi patung. Dapat dibayangkan bagaimana orang Arab sebelum
Muhammad diutus sebagai Rasul. Bagaimana akalnya, cara berpikirnya, bagaimana
nalurinya dan cara pandangnya terhadap sesuatu. Dia memegang kurma ditangannya
dan menyembahnya, ketika lapar dia memakannya.
Namun begitu, dalam jiwa mereka terdapat sifat-sifat kearaban yang
positif. Mereka beriman kepada Rabb, meyakini sebagai Zat yang menciptakan dan
memberikan rizki. Hanya saja mereka juga meyakini ada ilah (tuhan) Iain selain
Allah. Kepada ilah-ilah yang berupa berhala dan patung itulah mereka
mengarahkan ibadah-ibadah mereka.
Kemudian datanglah Rasulullah saw menyampaikan bahwa tidak ada yang
berhak disembah selain Allah, yang menciptakan semua makhluk adalah Allah, yang
memberi rezki adalah Allah dan tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesembahan
lain. Sebetulnya para Rasul mendakwah hal yang sama yakni tauhid, tiada ilah
selain Allah. Dalam prakteknya syariat para Rasul berbeda-beda, tapi tetap satu
keyakinan bahwa beribadah hanya kepada Allah.
Rasulullah saw juga menyampaikan bahwa dirinya adalah manusia biasa
seperti halnya kita, hanya saja ia bertugas menyampaikan dakwah. la tidak
memiliki kewenangan untuk memberikan madharat dan manfaat, memberikan kematian
dan kehidupan, menyembuhkan dan menyehatkan.
Muhammad adalah manusia biasa, ia lapar seperti halnya orang lain
lapar, kenyang sebagaimana orang lain kenyang, marah seperti halnya orang lain
marah dan juga mengalami kesulitan hidup dan tekanan sebagaimana yang dirasakah
oleh orang lain dalam hidupnya. Seandainya ia seorang malaikat niscaya ia tidak
akan bisa beradaptasi dengan kehidupan manusia yang penuh kesulitan dan tekanan
ini.
Kami tidak
mengutus seorang rasul-pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat
memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (Ibrahim 4).
Inilah Akidahku (Hazihi Aqidati)
'Aidh bin Abdullah al-Qarni
0 comments:
Post a Comment