MAFAHIM ISLAM

MEMAHAMI ISLAM DENGAN MUDAH

Oleh : Azhari

 

Ada dua hal yang sangat mempengaruhi kehidupan kita yakni Pengaruh Teman dan Makanan. Teman sangat besar pengaruhnya, sederhana saja seorang anak menjadi baik atau nakal sangat tergantung dengan siapa dia berteman. Bahkan hingga dewasa-pun pengaruh teman masih dominan.

 

Begitu juga makanan, makanan tidak hanya sekedar makanan halal tapi juga berasal dari rezeki yang halal. Rezeki haram diperoleh dengan cara mencuri, menipu, korupsi, dll, bahkan menyuap seseorang termasuk rezeki yang haram karena dosanya sama saja antara penerima dan pemberi suap.

 

Pengaruh Teman

 

Rasululllah saw telah memperingatkan umatnya bahwa seseorang sangat dipengaruhi dengan siapa dia berteman, mulai dari anak-anak hingga saat dewasa.

 

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

 

Teman yang baik itu yang beraqidah lurus, akhlaknya baik, taat beribadah dan menghindari maksiat. Tentu sangat berbeda perilaku seseorang yang berteman dengan orang saleh, diajak untuk beribadah, memperoleh ilmu darinya, menjauhi perbuatan maksiat dan jika kita salah akan diingatkan. Sedangkan berteman dengan orang yang buruk tentu diajak untuk berbuat maksiat, tidak akan diingatkan jika salah dan berlomba-lomba dengan kemewahan dunia.

 

Rasulullah saw menggambarkan seseorang yang berteman dengan penjual minyak wangi akan ketularan harumnya, sedangkan berteman dengan tukang pandai besi akan terpecik apinya. Ini analogi agar berteman dengan orang yang memberikan pengaruh baik terhadap kita.

 

Salah satu teman yang paling buruk adalah Abu Jahal. Rasulullah saw menasehati pamannya Abu Thalib yang sedang sakratul maut, agar mengucapkan Laa ilahaa illallaah. Abu Jahal menghasutnya untuk tidak meninggalkan agama nenek moyang, hingga wafatnya Abu Thalib tidak sempat masuk Islam.

 

Pengaruh Makanan

 

Dalam hadis riwayat Muslim yang panjang Rasulullah saw memerintahkan agar umatnya makanan yang thayyib (baik), baik dari jenis makanan halal dan baik dari rezekinya diperoleh dengan cara yang halal. Rezeki mempengaruhi perilaku seseorang, juga mempengaruhi dikabulkannya do’a.

 

Perbaikilah makananmu maka do’amu akan mustajab (HR. Thabrani).

 

Dalam surah al-Mukminun ayat 51 Allah swt menyandingkan antara makanan thayyib dengan amal saleh, bahwa makanan halal pembangkit amal saleh. Jika selama ini malas-malasan melakukan amal saleh, maka perlu introspeksi (muhasabah) apakah rezeki yang diperoleh dengan cara yang haram.

 

Sebab perilaku seseorang dipengaruhi dari makanannya, karena makanan itu akan mengalir dalam darah. Sering kita lihat anak-anak berperilaku buruk karena orang tuanya memperoleh rezeki dengan cara yang haram.

 

Setiap daging dari makanan haram akan dibakar api neraka. Betapa zalimnya memberi makan anak-istri dengan cara yang haram sehingga menjerumuskan mereka kedalam api neraka.

 

Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya (HR. Ibnu Hibban dan Al Hakim).

 

Referensi :

1. Menggapai surga dengan ukhuwah – Abdullah bin Jarullah

2. Pedoman hidup muslim – Abu Bakr Jabir al-Jazairi

0 comments:

AZHARI

AZHARI

Renungan

KEBERANIANKU TIDAK AKAN MEMPERPENDEK UMURKU

KETAKUTANKU TIDAK AKAN MEMPERPANJANG UMURKU

AKU AKAN TERUS BERJUANG SEMAMPUKU

UNTUK KEBENARAN DAN KEADILAN

HINGGA ALLAH MEMANGGILKU PULANG

ALLAHU AKBAR !



free counters

Pernyataan

Silahkan mengutip artikel di blog ini karena hak cipta hanya milik Allah swt.