Oleh : Azhari
Ini kisah luar biasa tentang ketabahan seorang ibu dalam menghadapi
musibah dan membuat suaminya tenang dalam menghadapi musibah. Hadis riwayat
Muslim mengisahkan tentang Ummu Sulaim menerima kenyataan anaknya meninggal,
dia berpesan kepada keluarganya agar jangan ada yang mengabarkan kepada Abu
Thalhah (suaminya).
Saat Abu Thalhah pulang kerumah Ummu Sulaim menyajikan makan malam.
Kemudian Ummu Sulaim berdandan dan berjima’ dengannya. Ketika Ummu Sulaim
melihat suaminya tenang dia berkata, ‘Wahai Abu Thalhah, apa pendapatmu bila
ada suatu kaum yang dititipi barang, kemudian barang itu diminta oleh yang
punya, adakah kaum itu berhak menahannya?’
Jawab Abu Thalhah, ‘Tentu tidak’
Kata Ummu Sulaim, ‘MohonIah pahala kepada Allah atas kematian anakmu’
Abu Thalhah sambil berkata, ‘Mengapa tidak kamu beritahu aku, setelah
kugauli baru kamu kabarkan keadaan anakku?’
Abu Thalhah menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah saw, maka
Rasulullah saw bersabda, ‘Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua’
Dari kisah diatas dapat diambil pelajaran bahwa Ummu Sulaim melakukan
perkataan tauriyah kepada suaminya. Tauriyah
dibolehkan dengan tujuan maslahat dan mencegah madharat. Tapi jika tidak
dibutuhkan maka sebaiknya tauriyah tidak dilakukan untuk menghindari salah
paham.
Tauriyah adalah perkataan yang mempunyai dua makna, makna yang jelas dan makna yang samar. Pendengar
memahami makna yang jelas sementara pembicara berniat untuk makna yang samar.
Jadi sebetulnya, perkataannya kebalikan dari apa yang diniatkan (inginkan), tujuannya
menyampaikan sesuatu tanpa berbohong.
Beberapa waktu kemudian Ummu Sulaim hamil dan melahirkan anak dan
diberi nama Abdullah oleh Rasulullah saw. Berkat do’a Rasulullah saw keturunan
Abu Thalhah menjadi orang-orang saleh, Abdullah mempunyai 9 anak dan semuanya penghafal
al-Quran.
Kitab : Lautan Hikmah dari kisah-kisah nyata dan berharga [Al-Qaulut Tsamin
min Qashashi Ibni Utsaimin]
Karangan : Shalahuddin Mahmud as-Sa’id
0 comments:
Post a Comment