Oleh : Azhari
Kita sangat menyukai kehidupan dunia, tinggal di kawasan elit,
mengendarai kendaraan mewah, bersenang-senang dengan pakaian mahal, menyandang
jabatan tinggi, mengumpulkan harta kekayaan yang sangat banyak, bermain dengan
anak-cucu, dll. Seharusnya kita belajar
dari orang-orang saleh, mempelajari hakekat kematian, memahami makna kematian
serta bagaimana mempersiapkan diri menghadapi kematian.
Para ulama mengisahkan Maimun bin Mahran seorang imam yang zuhud dan
ahli ibadah, bahwa dia menggali kuburan di rumahnya. Setiap malam dia memasuki
kuburan tersebut sambil menangis dan membaca Al-Qur’an. Lalu ia keluar dari kuburan
dan berkata, ‘Hai Maimun, engkau telah kembali ke dunia maka kerjakanlah amal
saleh’
Sebagian ulama ada yang menaruh kain kafan dikamarnya, dia selalu
melihatnya sehingga mengingatkan kepada kematian. Ada lagi ulama yang menulis
sebuah tulisan dirumahnya, ‘Ingatlah kematian, ingatlah pelenyap segala
kelezatan’
Khalifah Muawiyah ra berbaring diatas ranjang istana yang mewah,
Muawiyah berkata, ‘Letakkanlah aku di tanah' Orang-orang berkata, ‘Wahai
Khalifah kaum muslimin, ranjang lebih nyaman’ Kata Muawiyah, ‘Tidak, turunkan
aku’ Setelah diletakkan diatas tanah
Muawiyah membuka karpet lalu menempelkan pipinya langsung ke tanah sambil
menangis, kemudian ia berkata, ‘Maha benar Allah dengan firman-Nya’
Barangsiapa yang
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia
itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat,
kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di
dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (Huud 15-16).
Sufyan Ats-Tsauri ra duduk sambil bertasbih, lalu dia gemetar dan
berdiri, ‘Kenapa, wahai Abu Sa’id?’ tanya orang-orang. la menjawab, ‘Aku ingat
mati’ Az-Zahabi mengatakan bahwa penyebab kematian Ats-Tsauri karena selalu
mengingat kematian sehingga meremukkan hatinya. Saat dibawa ke dokter, dokter
berkata, ‘Orang ini tidak akan mampu hidup lebih dari 3 hari’ Ats-Tsauri membaca
surah at-Takaatsur usai shalat isya, dia mengulang-ulang hingga subuh sambil
menangis. Karena dia mengetahui dengan yakin akan kematiannya.
Janganlah begitu,
jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin (at-Takaatsur 5).
Berbeda dengan pengetahuan kita tentang akhirat bersifat zhan (dugaan),
bukan berdasarkan keyakinan. Kita tahu pasti akan mati karena menguburkan
keluarga, tetangga dan teman, tapi tidak tertanam dalam kalbu kita. Jika
tertanam dalam kalbu pasti kita fokus persiapan menghadap Allah, niscaya akan
memelihara waktu agar tidak hilang percuma.
Kitab : Gerbang Kematian (Waja’at sakratul maut bil haq)
0 comments:
Post a Comment