MAFAHIM

Islam adalah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan

Oleh: Azhari


Agama Islam telah sempurna diciptakan Allah swt, sesempurna penciptaan manusia sendiri sehingga agama ini tidak perlu tambahan dari luar, baik dari adat/kebiasaan/budaya/tradisi setempat maupun inovasi-inovasi dalam beribadah.

Adat (‘urf) adalah kebiasaan masyarakat setempat yang dijadikan ritual syakral dengan berbagai tujuan, untuk mewujudkan rasa syukur, menolak bala/bencana, dihindarkan dari roh jahat, diberkati leluhur atau hanya sekedar menarik wisatawan.

Adat ini ada yang bertentangan dengan agama, ada juga yang tidak bertentangan. Adat asli masyarakat Minang, yang bertanggung jawab memberi nafkah keluarga adalah Paman (Mamak), sementara dalam Islam yang bertanggung jawab adalah Bapak, maka adat seperti ini harus dihapuskan. Alhamdulillah adat seperti ini tidak ada lagi saat ini. Atau, kebiasaan gotong royong dalam masyarakat Minang dalam membangun rumah dan bercocok tanam, adat seperti ini masih boleh dijalankan karena tidak bertentangan dengan Islam.

Adat Jawa, seperti larung laut, ngalap berkah, ruwatan, puasa mutih, minta restu/berkah dari makam keramat dan malam 1 Suro yang diikuti dengan pencucian benda pusaka (jimat) yang dikeramatkan. Adat Minang, seperti tabuik, balimau dan basapa. Adat seperti ini bertentangan dengan Islam, bahkan sebagian menjurus kepada perbuatan syirik yang tidak ada ampunannya dari Allah swt.

Berbeda halnya dengan agama lain, Islam membersihkan diri dari adat yang tidak sejalan dengannya. Sementara agama lain mengadopsi adat setempat, sehingga masyarakat yang masuk agama lain nyaris tidak ada perbedaan keseharian mereka antara sebelum dan setelah masuk agama tersebut. Misalnya, masyarakat pedalaman Papua yang menganut agama Kristen tetap saja telanjang, sementara yang memeluk Islam bersih dan berpakaian rapi.

Islam datang sebagai hakim yang menetapkan boleh tidaknya adat diamalkan karena dalam Islam sudah jelas mana yang halal dan haram. Jika adat merupakan kebiasaan buruk dan bertentangan dengan Islam maka harus di buang, sementara adat yang baik dan tidak bertentangan dengan Islam maka masih boleh diamalkan/dijalankan. Sama halnya ketika Muhammad saw berdakwah di tengah masyarakat jahiliyah Arab, adat yang yang bertentangan dengan Islam dalam hal aqidah, ibadah dan mu’amalah dihapuskan oleh Rasulullah saw.

Jika agama ini berdasarkan adat maka (yakinlah) tidak akan ada lagi yang tersisa dari agama, karena semua ritual masyarakat di dominasi oleh adat. Jadi, tidak selayaknya adat dinisbatkan kepada agama, karena adat ciptaan/kreasi manusia sedangkan agama ciptaan Allah swt, sesuatu yang tidak bisa dibandingkan.

Berbeda halnya dengan adat, sains dan teknologi dibolehkan berkembang selama tidak melanggar prinsip agama, karena manusia diberikan akal oleh Allah swt sehingga mampu menciptakan produk untuk meningkatkan kenyamanan kehidupannya. Misalnya, fatwa ulama membolehkan program bayi tabung selama benihnya berasal dari suami-istri, tetapi jika bukan berasal dari suami-istri maka diharamkan.

Adat yang diajarkan secara turun temurun oleh nenek moyang/leluhur bukanlah sebuah kebenaran, hanya Islam yang seharusnya menjadi tolok ukur kehidupan kita.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Al-Baqarah 170).

Untuk itu, perlu kita meningkatkan pemahaman Islam agar bisa membedakan mana adat yang bertentangan dengan Islam dan mana yang tidak. Bisa jadi, tanpa sadar kita tergelincir kepada perbuatan syirik karena lemahnya pemahaman Islam.

Wallahua’lam

Bahan bacaan:
Fatwa-fatwa Penting Syaikh Syaltut, Syaikh Mahmud Syaltut, Darus Sunnah, cetakan 1, Maret 2006

1 comments:

saudaraku yang dimuliakan allah
engkau bijaksana,kokoh dalam islam...generasi islam merindukan sosok sepertimu..
allahu akbar

AZHARI

AZHARI

Renungan

Merupakan kesempurnaan Islam bila seseorang meninggalkan apa saja yang tidak berguna bagi dirinya (HR Ahmad)

Pernyataan

Silahkan mengutip artikel di blog ini karena hak cipta hanya milik Allah swt.