Oleh : Azhari
Ibnu Mas’ud menganalogikan bahwa manusia yang perutnya sedang lapar
maka ia akan makan sesuai dengan kebutuhannya, setelah perut kenyang maka ia
tidak membutuhkan makanan lagi. Kalaupun dia tetap makan rasanya tidak nikmat dan
tidak ada gunanya lagi.
Demikian pula bagi hamba Allah, bahwa ia tidak perlu menjalankan amalan
yang tidak diperintahkan oleh Allah swt, karena jiwanya tidak membutuhkannya.
Dalam hal syari’at, jiwa manusia sudah tak merasakan nikmatnya lagi menjalankan
amalan tersebut karena jiwa tidak memerlukannya.
Hamba Allah yang benar-benar cinta kepada syari’at-Nya, mereka hanya
menjalankan amal yang diperintahkan oleh Allah swt, tidak melebihkan dan tidak
menguranginya. la melaksanakan perintah karena dapat mengambil manfaatnya.
Sedangkan hamba yang suka melebihkan diri dalam menjalankan ibadah,
cenderung melampaui batas dari ketentuan Allah swt. Seseorang yang suka terjun
dan tenggelam dalam bid’ah dan amal-amal yang salah, maka hatinya tertutup noda
hitam sehingga sulit menerima kebenaran.
Orang yang (suka) berbuat bid’ah,
maka Allah akan mencabut kebaikan yang sepadan dengan bid’ah yang telah
dilakukan (HR. Imam Ahmad).
Kitab : Tidak Meniru Golongan Kafir [Iqtidhau ash-shiratil mustaqim
mukhalifatu ash-habil jahim]
Karangan : Ibnu Taimiyah
0 comments:
Post a Comment